Tidak Semua yang “Lebih Cepat, Lebih Baik” ~6 April 2014

Bismillaah ,

Tidak semua yang “Lebih Cepat, Lebih Baik” ~6 April 2014.
Mengapa disana tertulis “6 April 2014 ?” Karena pada tanggal tersebut akhirnya saya resmi menikah *eh cieee.. Tidak ! Saya tidak akan membicarakan tentang pernikahan kami, tapi memang judul diatas ada kaitannya dengan sebuah pernikahan yang hingga kini sangat saya syukuri, saya nikmati, saya banggakan. Didalamnya, penulis begitu banyak mengambil faedah tentang apapun. A-pa-pun. Sekali lagi, a-pa-pun. Ya, apapun. (Sekali lagi dapet payung cantik).

Episode 1 :
Sayang, secepatnya aku akan membeli rumah biar kita lebih nyaman tinggal di sana..
Laa ! (tidak), aku lebih ridho tinggal disebuah kontrakan daripada harus di rumah pribadi sementara engkau harus bersusah payah setiap hari..

Episode 2 :
Sayang, aku akan membeli mobil agar kau tak kepanasan, kedinginan, atau kesusahan..
Laa ! Apakah mobil menjadi mahar untukku ? Sedangkan aku menikmati berpegangan pada tubuhmu dari jok belakang.

Episode 3 :
Wallaahi (demi Allaah), mengapa kau selalu menolak padahal kau tau hartaku dari jalan yang halal ?
Karena andai engkau tau, tidak semua yang cepat kita miliki itu berarti lebih baik.” -the end-.

Ya, tidak semua yang lebih cepat berarti lebih baik. Dalam sebuah pernikahan, misalnya. Ada beberapa poin yang kita selalu menganggap semua hal yang belum kita rasakan, belum kita punya, harus disegerakan untuk diraih, dimiliki. Contohnya ?

Momongan. Lalu bagaimana pernikahan ‘Aisyah radhiAllaahu ‘anha dengan Muhammad shalAllaahu ‘alayhi wa sallam ? Bukankah sampai akhir hayatnya mereka tidak memiliki momongan ? Lalu apakah kita berani mengatakan bahwa keduanya buruk atau gagal dalam berumahtangga ? Sad ending ? Laa ! Allaah mengetahui takdir setiap hamba-Nya. Allaah lebih tau kapan kau akan diberikan anak-anak atau tidak sama sekali. Dua hal ini tidaklah buruk. Karena esensi keberhasilan rumahtangga ialah jika anggota didalamnya kelak mampu menapakan kaki di Jannah Allaah, berdua berbalut kasih, memadu cinta.

Harta Benda. Logikanya memang seseorang yang telah menikah harusnya mampu memiliki ini dan itu. Tidak salah ketika kita bisa punya rumah pribadi, mobil, perhiasan, atau semisalnya. Namun, taukah saudaraku, ada kalanya bersabar terhadap kepemilikan harta benda itu lebih meng-asyik-an daripada selalu memikirkan rumus lebih cepat dimiliki berarti lebih baik. Ada kalanya ketika rejeki yang kita miliki bisa didahulukan sebentar untuk saudara-saudara faqir miskin atau anak-anak yatim atau saudara kita yang terlilit hutang. Ya, ada kalanya kepuasan itu justru hadir dalam kesederhanaan. Allaah lebih paham kapan tiba saatnya kita punya mobil, tanah, rumah, perhiasan, dll. Bahkan ada diantara saudara kita yang rela berhutang disana-sini demi kepuasan jawaban “Lebih cepat, lebih baik.” Ujung-ujungnya, mereka tak sadar bahwa telah bergelimang dengan harta lain yang bernama riba’. Allaahul Musta’aan.

Tujuan Pernikahan itu Sendiri. Ada yang menikah dengan tujuan ingin melupakan mantan kekasih, move on bahasa kerennya. Maka, dia mengatakan “Lebih cepat aku menikah, lebih baik“. Ada yang tujuannya menikah karena melihat teman- teman yang lain mulai sebar-sebar undangan. Maka, ia-pun mulai panik dan berkata : “Yap, lebih cepat aku menyusul, lebih baik“. Ada lagi yang lebih lucu, ketika ditanya “mengapa kamu menikah ?” Jawabannya, “Biar kalau kajian ada yang boncengin, kan capek gitu loh jalan mulu..“. Atau, “Biar ada yang masakin, mijetin, beresin rumah tiap hari“.

Sejujurnya, menikah bukanlah sebuah proses awal yang tepat untuk melupakan masa lalu (baca : mantan kekasih). Jika engkau pernah tenggelam dalam bodohnya hubungan non-haram (pacaran), maka proses yang tepat adalah gigih kembali pada jalan kehidupan yang lurus, yang benar, belajar memahami pemecahan masalah dengan melibatkan Allaah. Coba bayangkan, bagaimana perasaan pasanganmu ketika dia bertanya, “Sayang, mengapa engkau mau menikah denganku ?” Apakah Anda akan tega melihat wajahnya seraya menjawab, “Sebab satu-satunya cara agar bisa melupakan mantan kekasihku yang dulu adalah dengan menikahimu…“. Saya yakin seyakinnya pasti Istri / Suami Anda bakalan jengkang bak adegan dalam komik jepang. Hahaha..

Menikah juga bukan ajang “balap karung” yang mana dijadikan ajang berlomba-lomba siapa yang bisa menyusul yang duluan didepan. Menikah, butuh persiapan mental. Sejauh mana engkau paham tentang rambu-rambu didalamnya.

Dan ya, saya tekankan bahwa menikah juga bukan ajang mencari ojek motor, ojek payung, atau koki dadakan, bahkan tukang relaksasi pribadi dan semisalnya. Jangan melulu hanya mengharapkan yang enak-enak saja, ingat, dalam pernikahan kita dituntut untuk bersikap mature dalam keadaaan lapang atau sempit. Pasanganmu kelak bukanlah supir, bukan juga chef hotel bintang lima apalagi kau anggap ia sebagai alat pemijat otomatis ! Pasanganmu ialah yang bisa menerima segala kekuranganmu, kemudian ia hadir dengan segala kebijaksanaannya. Menyeru hubungan rumahtangga hingga sampai Jannah. Ingatlah, Bersabar lebih baik daripada terburu-terburu namun salah menempatkan tujuan. Tidak semua yang lebih cepat, lebih baik.

Menikahlah, saat Anda benar-benar paham tentang arti menghargai hak dan kewajiban didalamnya. Menikahlah, saat Anda meniatkan semuanya karena Allaah. Ya, “Karena Allaah, aku menikah.” Bukan karena yang lain.

Akhirnya, memang tidak semua yang lebih cepat itu baik. Ada kalanya bersabar justru lebih utama. Dalam seeeeegala hal ! Kecuali 1 hal yang harus dikerjakan karena lebih cepat akan lebih baik, yaitu : Bertaubat kepada Allaah.

Sekian, BaarakAllaahu fiikum.

Jakarta, 17 Ramadhan 1434 H / 15 Juli 2014.

2 comments

  1. masya Allah, tulisannya menarik ^^
    namun saya ada sedikit masukan, pada paragraf terakhir, saya tidak sependapat, sependek pengetahuan saya begini (saya copast dari klikuk.com)
    Oleh : Dr. Muhammad Arifin Badri
    Dahulu sebagian orang bijak menyatakan:
    «كَانَ يُقَالُ الْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ إِلَّا فِي خَمْسٍ , إِطْعَامُ الطَّعَامِ إِذَا حَضَرَ الضَّيْفُ وَتَجْهِيزُ الْمَيِّتِ إِذَا مَاتَ , وَتَزْوِيجُ الْبِكْرِ إِذَا أَدْرَكَتْ , وَقَضَاءُ الدَّيْنِ إِذَا وَجَبَ , وَالتَّوْبَةُ مِنَ الذَّنْبِ إِذَا أَذْنَبَ»
    Terburu-buru itu berasalkan dari bisikan setan, kecuali dalam lima hal:
    1. Menghidangkan jamuan bila tamu telah datang.
    2. Menyegerakan pengurusan orang meninggal setelah nyata-nyata mennggal.
    3. Menikahkan anak gadis setelah baaligh.
    4. Melunasi hutang bila telah jatuh tempo.
    5. Bertaubat dari dosa.
    (Hilyatul auliya’ oleh Abu Nuaim 8/78)
    Just copas bbg al ilmu ghuroba Jakarta Indonesia jum’at, 5 April 13 09:27:13
    Barakallahu fiyk ^^

    1. Ahaaa ! Alhamdulillaah diingatkan.. Terbukti kalau penulis masih banyak kurangnya.

      Jangan sungkan nambahin lagi ^^ wallaahu yubaarik fiik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s