Andai Aku Tak Punya Ibu Sepertinya…

ibu

Love your parents. We are so busy growing up. We often forget that they are busy growing old.

Bismillaah, kenapa ya kita suka sekali membaca artikel atau postingan sederhana tentang “Parenting” baik yang sudah punya anak maupun yang belum punya anak, tapi justru luput dari bacaan penting tentang “Birrul Walidain” (berbakti kepada orangtua) ? Padahal, pahala berbakti kepada orangtua sungguh teramat besar hingga disebutkan bahwa telah ada seseorang di jaman Ibnu Umar yang menggendong Ibunya sambil thawaf mengelilingi Ka’bah, namun hal tersebut belumlah cukup untuk membalas kebaikan untuk Ibunya. Maa syaa’Allaah..

Baiklah, pagi ini penulis membaca sebuah postingan ‘cantik’ dari sahabat dunia maya, Dahlia Haura Mustafa. Terkabar beliau adalah seorang Ustadzah (pengajar) disebuah ma’had sekelas SMP. Saya ketik ulang tulisan tersebut dengan beberapa tambahan dan editan.

 

———————————————

Dulu, sebagai seorang anak, aku tak tau bahwa orangtua-pun mengalami krisis peralihan. Ternyata, sebagaimana adanya peralihan seorang anak menuju remaja yang menghadapi ledakan hormon pada masa pubernya, orang dewasa-pun mengalami peralihan menuju tua seiring perubahan hormonal mereka. Namanya krisis paruh baya [middle age crisis].

Hai remaja, jika kamu dapati Ibu kamu sering marah-marah, mudah tersinggung, mudah sedih… Ketahuilah bahwa beliau tengah mengalami krisis paruh baya. Mereka kurang lebih menghadapi apa yang kamu hadapi, kecuali pada hal “belajar” naksir dengan seorang anak muda. Dan krisis yang beliau hadapi akan semakin runyam jika suaminya-pun mengalami krisis paruh baya juga.

Jadi, berilah pemaklumanmu dan kasihmu kepada seseorang yang selalu memberikan pemaklumannya yang luar biasa sejak kamu bayi. Beliau maklum kamu buang air saat ia nikmati makan siangnya. Beliau maklum kamu rewel minta gendong saat ia nikmati tidur lelapnya. Saat kamu mulai bicara, beliau maklum dalam menjawab pertanyaan itu-itu saja yang kamu ulang-ulang. Selanjutnya, kamu teruskanlah sendiri daftar pemakluman beliau padamu, maka akan penuh-lah buku tulismu.

Tahan marahmu dan telan rasa kesalmu. Maafkan Ibumu. Maklumi Ibumu. Sayangi Ibumu. Kasihani Ibumu. Lakukanlah karena Allaah, maka semuanya akan mudah.

Kalau kamu membentaknya, kamu akan membuat Pencipta dan Penjagamu murka. 

“… Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh rasa sayang….”. Alquran, 17:23.

Dan putrimu nanti akan memperlakukanmu sebagaimana kamu perlakukan Ibumu.

———————————————

Demikian tulisan itu dibuat, maka penulis-pun teringat isakan tangis seorang sahabat yang melapor bahwa Ibunya telah membuatnya kecewa lantaran selalu meminta uang kepadanya. Innalillaahi wa innailaihi rooji’un.. Jangan sampai karena sebuah ujian hidup lalu kita enteng berucap, “Andai aku tak punya Ibu sepertinya..“.

Lalu, dimanakah memori kita ketika seorang anak merengek meminta dibelikan jajan atau mainan padahal Ibunya sama sekali tak punya uang dan mungkin terpaksa harus berhutang ? Atau ketika anaknya sakit dan biaya rumah sakit begitu membengkak bagi si Ibu sehingga ia-pun harus menjual barang apa saja demi keselamatan si anak ? Mari lembutkan hati dengan bertanya kepada Ibu dan Ayah bagaimana perjuangan mereka mengasuh kita hingga saat ini..

Ingatlah duhai saudaraku, “Andai aku tak punya Ibu sepertinya..” adalah kalimat yang asalnya dari syaitan. Jika kau tak mampu bersyukur telah diberikan sosok seorang Ibu yang tentu saja memiliki kekurangan sama halnya denganmu, lalu sosok Ibu seperti apa yang bisa bertahan mengasuhmu dari bayi hingga sekarang ? SubhaanAllaah..

Kita tak pantas mengatakan hal seperti itu, kita tidak pernah tau bagaimana tangan halus itu berubah menjadi kasar karena harus mencuci baju-baju, menyetrikanya hingga rapi, mengupas makanan, bahkan terkadang terkena panasnya api dan lain sebagainya. Kita tidak dapat merasakan itu semua kecuali Allaah menghendaki dan memberi kesempatan untuk merasakan hal yang sama. 

Allaahu A’lam, baarakAllaahu fiykum…

~Catatan dari seorang anak yang masih berusaha memperbaiki diri setiap hari. We love you, mom..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: