Belajar dari Sebuah Cerita Sate Kerang

(Bismillaah, catatan 1 tahun yang lalu. 2 Oktober 2012. Betapa indahnya kumpulan puzzle kehidupan)

222036_246758152114142_276038709_n

Sate keraaaang… Sate keraaaang..

Di siang bolong, terdengar suara seorang nenek paruh baya berusaha menjajakan sate kerang dan lontong kupang buatannya. Suaranya terdengar hampir habis..

Terlihat si nenek begitu semangat dan begitu letih karena (mungkin) kepanasan, belum lagi harus berjalan kaki demi nafkah yang harus mencukupi. Masih teringat jelas, sandal jepit yang digunakannya pun sangat tipis. Lebih tepatnya menipis karena terlalu sering tergesek oleh tanah..

Andai kau tau, saat itu Beliau menyunggi (membawa) dagangannya diatas kepalanya yang sengaja diberi alas kain agar seimbang ketika berjalan. Kira-kira papan dagangnya seluas 75cm x 60 cm dengan beban berupa 1 buah panci berisi sayur, beberapa lonjor lontong, sate, dan lauk pauk lain. Sayang, saya tidak berhasil mengabadikan dengan kamera bagaimana cara Beliau menyunggi. Jangankan memotretnya, melihatnya pun sudah tak kuasa pengen nangis. Hehehe..

Percakapan antara si Mbah (penjual sate kerang) dan si Anak (pembeli) : 

Si Anak : “Rumahnya dimana Mbah?
Si Mbah : “Di Sidoarjo, Nduk..
Si Anak : “Kalau yang di Malang rumahnya dimana..?
Si Mbah : “Loh, saya datang dari Sidoarjo, bukan orang Malang. Kesini naik kol (nama lain dari angkot) atau bus, kalau di Sidoarjo dagangan ndak habis, terpaksa harus jual sampai ke sini.
Si Anak : “….speechless……” (senyum haru, rasanya bener-bener pengen nangis meluk si Mbah)
Si Mbah : “Ini kerangnya 600-an, mau beli berapa Nduk?”
Si Anak : *nangis dalam hati* (harganya gak ada seribu tapi jualan sampek kesini.. Maa syaa’Allaah..)

Pesan hari ini, kalau mau nangis jangan lihat sinetron yang jelas-jelas ceritanya fiktif dan banyak mudhorotnya. Coba kita tengok disekeliling, banyaaaaak sekali sekelumit cerita hidup yang real, yang mungkin sampai membuat diri ini malu. Malu karena betapa ‘mereka’ lebih giat menjalani hidup, tidak pernah berleha-leha sedikitpun, tidak pernah merasa capek, tidak juga mengeluh. Faghfirlii yaa Allaah.. 

Mereka bukan pengemis, mereka hanya butuh jajakan mereka dibeli. Sedikitpun menurut kita, maka besar artinya bagi mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: