Sudahkah meneladani Salaf us Saalih ??

Bismillaah,
Siapa yang tak kenal Abu Bakr As-Siddiq ? Diceritakan perawakannya yang kurus, bahunya yang kecil, otot-otot tangannya terlihat jelas, matanya cekung, saking kurusnya Beliau hingga digambarkan kainnya sampai selalu turun dari pinggangnya (baca : melorot).. Yaa Rabb..

Apakah Beliau miskin ? Tidak.
Apakah Beliau sakit ? Tidak.
Apakah Beliau pelit ? Tidak.
Apakah Beliau diet ? Tidak.

Sebagian besar mindset manusia mengatakan orang yang berperawakan kurus adalah orang peminta-minta (miskin), berpenyakit, enggan makan karena pelit atau malas makan karena ikut program diet. Yah, itulah kacamata manusia.

Abu Bakr As-Siddiq adalah orang yang sangat teramat gemar sekali bersedekah. Dalam hatinya hilanglah penyakit serakah. Ia membenci dunia, sebagaimana dunia pun menjauhinya. Baginya, tak ada harta lain kecuali dibelanjakannya di jalan Allaah. Perhatikan hadits ini :

“Rasulullaah shallallaahu’alayhi wasallam memerintahkan kami untuk bersedekah, maka kami pun melaksanakannya. Umar berkata ‘Semoga hari ini aku bisa mengalahkan Abu Bakar’. Aku pun membawa setengah dari seluruh hartaku. Sampai Rasulullaah shallallaahu’alayhi wasallam bertanya: ‘Wahai Umar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’. Kujawab: ‘Semisal dengan ini’. Lalu Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullaah shallallaahu’alayhi wasallam lalu bertanya: ‘Wahai Abu Bakar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’. Abu Bakar menjawab: ‘Ku tinggalkan bagi mereka, Allah dan Rasul-Nya’. Umar berkata: ‘Demi Allah, aku tidak akan bisa mengalahkan Abu Bakar selamanya’” (HR. Tirmidzi)

Maa syaa’Allaah, pantas saja Rasulullaah shallallaahu’alayhi wasallam berkata bahwa amalan kita tak akan sanggup mengalahkan amalan mereka meskipun kita telah bersedekah emas setinggi gunung uhud sekalipun tak akan mampu menyamai satu mud (infaq) dari mereka.
-Bukhari, Muslim-

Lalu bagaimana dengan kita yang terkadang masih suka “berfoya” dengan barang2 yang kurang penting sekalipun ? Inilah bukti bahwa Beliau tidak miskin, apalagi pelit.

Ada 2 gelar yang diberikan untuk Abu Bakar : ‘Atiq dan As-Siddiq.

‘Atiq diberikan karena wajah Beliau sangat tampan berseri. Sedangkan julukan As-Siddiq didapatkan karena Beliau membenarkan kabar dari Nabi Shallallaahu’alayhi Wasallam dengan kepercayaan yang sangat tinggi. Sebagaimana ketika pagi hari setelah malam Isra Mi’raj, orang-orang kafir mengejek Rasulullaah Shallallaahu’alayhi Wasallam telah gila mengaku bisa melakukan perjalanan ke langit, didepan Abu Bakar. Namun, dengan gaya cool, Beliau hanya menjawab singkat :

إن كان قال فقد صدق

Jika ia (Nabi) berkata demikian, maka itu benar”.

Lalu bagaimana dengan kita ? Terkadang masih terpancing perdebatan sengit, dahi mulai berkernyit, berseteru hingga sampai ke cicit, penyakit hatipun mulai dikedepankan. Seolah lupa bahwa hati ini mempunyai haknya untuk dilembutkan.

Beliau termasuk orang yang pertama masuk dalam Islam. Inilah bukti bahwa hati Beliau sangat lembut, sangat mudah menerima kebenaran. Beliau pula yang selalu berada di sisi Rasulullaah Shallallaahu’alayhi Wasallam untuk mengawal perjalanan atau untuk berada di setiap peperangan melawan gangguan yahudi. Inilah bukti bahwa Beliau berjiwa setia dan pemberani.

Selain tampan, gemar bersedekah, berhati lembut, setia dan pemberani, ada 1 hal yang menarik dari kisah hidup Abu Bakr As-Siddiq yang paling saya suka, yang sangat pantas kita tiru, yaitu : Beliau PALING TAKUT menafsirkan ayat Al-Qur’an.

Sebagaimana seorang sahabat berkata, jika ada orang yang enggan dimintai tafsiran tentang firman Allaah, maka ia adalah Abu Bakr As-Siddiq.

Maa syaa’Allaah, lalu bagaimana keadaan kita sekarang ? Banyak orang yang senang menafsirkan Al qur’an sesuka hati, bahkan tanpa ‘ilmu. Bukankah Al-Qur’an berbahasa arab ? Bukankah Abu Bakr adalah orang yang paham bahasa arab ? Bukankah Beliau juga yang paling lama bersama Rasulullaah Shallallaahu’alayhi wasallam ? Tapi, sungguh Beliau paling anti -karena takut salah- dalam menafsirkan kalamullaah. Maa syaa’Allaah..

Bahkan, tak sampai pada Al-Qur’an kita “lancang” mengambil artinya. Terkadang kitapun terlalu cepat dalam menafsirkan masalah oranglain. Kita terburu-buru berkata “si fulan begini, fulanah begitu..” Tanpa enggan bertabbayun (mencari informasi akurat) lebih dulu. Atau, kita juga terburu-buru menyebarkan informasi “qila wa qola” (dikatakan dan katanya) pada oranglain tanpa ingin tau apakah berita itu nyata atau palsu. Benar, nyatanya banyak dari kita yang telah disibukkan pula didalam arena tahdzir sana-sini, senang menunjuk hidung oranglain tanpa pernah mau menunjuk hidung sendiri. Dan untuk masalah lainnya, kita lebih mengedepankan terburu-buru daripada mencari tau apakah sesuatu itu baik atau tidak untuk kita. Semoga Allaah senantiasa menjaga kita dari yang demikian..

Demikian akhlaq Abu Bakr As-Siddiq Radhiallaahu ‘anhu. Mencintainya, berarti mau belajar menirunya. Seperti perilaku fans pada idolanya. Dan setiap jiwa akan dikumpulkan bersama orang-orang yang dicintainya.

Allaahu A’lam.

Ditulis di Kediri, 11.00 PM / 14 Shafar 1435 Hijriyah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: