C.I.N.T.A

Cinta itu.. Bukan ketika kau mampu berucap “I love you”, namun justru ketika engkau mampu berucap “Qobiltu….

Cinta itu.. Bukan ketika bangga dapat berbohong demi kebaikan, namun justru ketika berani  memperjuangkan kejujuran demi sebuah kebaikan, sepahit apapun itu kan ?

Cinta itu.. Bukan hanya perasaan ingin memiliki, namun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) cinta adalah sebuah kata kerja, dan bekerjalah demi yang dicintai.

Jika cinta adalah masalah hati, maka jangan bermudah-mudahan bermurah hati. Jika cinta adalah masa depan, maka jangan asal tunjuk yang didepan.

Duhai cinta, engkau bagaikan uang seribu rupiah satu-satunya yang mejeng didompetku, terselip diujung lipatan dompet yang kaku. Aku tak akan menyia-nyiakanmu, tak akan asal memberi kepada siapapun karena engkau terlalu berharga untukku.

Duhai cinta, tak ada maksud menyamakan kau dengan uang kucel yang terselip itu. Bukan sayangku. Tak ada maksud merendahkanmu. Namun, bagaimanakah keadaan seorang yang sedang lapar berwajah lugu, sedang kebutuhan lain yang tak kalah menunggu. Belum lagi ada yang harus ditolong diujung gang biru. Bukankah aku harus menyulap diriku menjadi orang yang super bijak dalam kondisi seperti itu ? Benar, cintaku.. Aku pun harus bersikap sama untukmu, bijak memandangmu karena aku tak mampu mempermainkanmu.

Ah cinta, kata orang, jika disampingmu mereka akan bersaksi “sungguh bagaikan tahi kucing rasa coklat”. Tidak cinta, aku tidak ingin menjadi seperti orang-orang  bodoh  yang rela memakan barang najis meskipun dibumbui rasa coklat. Karena disamping aku tidak suka coklat, aku pun tidak ingin membawamu menuju kebohongan tingkat camat, kemudian dibalut angan-angan mengkilat menggeliat mengalahi seekor ulat.  Tahi kucing rasa coklat ? yang benar saja ? Rasa coklat ?

Bagiku, bersamamu adalah sebuah pilihan persatuan hati yang sah atau tidak sama sekali. kata orang cimahi, inilah cinta karena Illaahi. Aku tak sanggup membodohimu ataupun dibodohimu demi misi memiliki. Kelak nanti berada disampingmu aku akan bersaksi,  “sungguh  steak sapi rasa daging sapi”. Pas sekali, jujur dan percaya diri.

Cinta, kata orang demi mengenalmu tak perlu syarat usia. Ah, aku ditipu sia-sia. Untuk mengenalmu aku diharuskan berusia minimal 21 tahun oleh pemerintah Indonesia. Itupun sudah ketambahan 3 tahun setelahnya.

Salahku sendiri, mengapa tak ku lawan persyaratan demi mengenalmu lebih dini ?  Tapi, tidak begini, aku termasuk orang yang mawas diri. Bukankah 25 tahun adalah umur yang pas ketika tangan ini bisa digandengi ? Hihihi

Duhai cinta, sudah malam.. Bukan karena mulutku sudah bungkam, tapi memang aku harus beranjak dari kotak bergelombang radiasi yang suram. Ceritamu tak akan habis ku tulis dengan papan qwerty pinjaman. Hoaam.

Kalau kau tau,

Aku selalu berusaha menembus persyaratan menjadi salah satu penduduk di negeri yang sungainya mengalir dengan merdu, airnya saja dari susu dan madu. Duduk diatas dipan-dipan berhadapan denganmu. Karena, kalaupun saat ini Rabb semesta alam tak menghendaki pertemuan denganmu, aku tak akan mencucu, kelak ku temui kau di telaga rindu.. -in syaa’Allaah-

Nio, 1 Shafar 1435 H, 21.00 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: