Sebelum Tegur Anakmu, Tegur Dulu Dirimu..

Bismillaah,

Wahai Ibu, yang katanya sebaik-baiknya guru di dunia.. Wahai Ibu, yang katanya kunci dari apiknya generasi mendatang.. Wahai Ibu, yang katanya siap menjadi panutan anak-anakmu..

Jangan dulu marah ketika anakmu lebih senang berlama-lama di rumah temannya,
Jangan dulu kecewa ketika anakmu lebih suka bertanya kepada Ibu teman-temannya,
Jangan dulu geram ketika anakmu lebih nyaman sendiri didalam kamar, membaca buku-bukunya

Sebelum tegur anakmu, tegur dulu dirimu,

Mungkin, ada sesuatu yang tak kita ketahui bahwasannya..

Di rumah temannya ia lebih banyak mendapatkan perlakuan baik dari si pemilik rumah ketimbang di rumahnya sendiri. Ia pun lebih condong senang dengan jawaban manis dari Ibu teman-temannya ketika bertanya sesuatu yang menurut kita tak usahlah ditanyakan, karena pertanyaan anak-anak biasanya amat sederhana. Atau hanya buku-buku di almarinya satu-satunya jalan bagaimana ia mendapatkan jawaban dari pertanyaan hidupnya.

Ibu, bagaimana perasaanmu ketika anakmu lebih nyaman lebih senang lebih ridho dengan yang lainnya ketimbang harus berada disisimu saat ia mulai banyak mengumpulkan pertanyaan dari masalah kehidupannya ? “Ibu tak harus cantik, Ibu tak harus sexy, Ibu tak harus wangi, Ibu cukup harus pintar mendidik kami menjadi anak yang sholih dan sholihah” begitu mungkin teriakan dalam hatinya. Maa syaa’Allaah..

Jika betul demikian, duhai Ibu, ketahuilah anakmu sedang menuntut HAKnya. Coba tatap guratan wajahnya, mungkin jika mainan, baju2 bagus, makanan bergizi, rumah mewah, kendaraan kece sudah Ibu berikan untuknya, lalu apakah ‘ilmu akherat untuknya juga sudah terpenuhi duhai pemilik rahim yang mulia ? Jika belum, semoga ia tak sampai menuntutmu di negeri yang peradilannya sangat adil.

Beruntunglah bagi Ibu yang memiliki anak yang tak perlu Ibu ajarkan ini-itu namun mereka mau dan mampu membekali dirinya dengan ‘ilmu haq di tempat lain, tak taukah Ibu ? Mereka hanya berharap agar kelak menjadi syafa’at bagimu, menyelamatkanmu dari kobaran api yang bahan bakarnya jin dan manusia..

Namun, jika Ibu memiliki anak yang tak bisa diatur tingkahnya, pergaulannya melenceng jauh dari syari’at Allaah, tega mencoret nama baik keluarga.. Yaa Rabb, duhai yang namanya disebutkan 3x lebih banyak oleh Allaah lewat Rasul-Nya shallallaahu’alayhi wasallam ketimbang para lelaki yang bersusah mencari nafkah diluaran rumah, sebelum engkau ingin tegur anakmu, tegur dulu dirimu..

Al umm hiya madrasah al ula” Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Persiapkanlah ‘sekolah’ yang baik untuk anakmu, sesungguhnya ia banyak belajar di sekolah dalam rumah, bukan sekolahan luar rumah seperti anggapan orangtua pada umumnya.
-catatan dari seorang anak yang (in syaa’Allaah) semoga berkesempatan menjadi seorang Ibu :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: