Lebih Mendahulukan Tetangga Dunia Maya Ketimbang Dunia Nyata ?

Seseorang yang begitu baik dengan tetangga dunia maya-nya tentulah baik bagi amalannya, namun terkadang menjadikan lupa kepada (hak) tetangga dunia nyatanya. 
Seseorang yang sangat terkenal dimata tetangga maya-nya namun belum tentu dikenal juga oleh tetangga nyatanya. Bahkan mungkin tak satu-pun tetangga nyata-nya mengetahui siapa namanya, bagaimana perilakunya, tak pernah sekalipun menawarkan bantuan ataupun meminta bantuan darinya. Allaahul Musta’an.

Ketika punya makanan di rumah, siapakah yang lebih berhak tau wujudnya, apakah tetangga maya ataukah tetangga nyata ? Padahal bisa jadi aroma makanan tsb lebih dulu sampai di rumah tetangga sebelah, namun tak 1 mangkuk kecilpun diberikan walaupun hanya sekadar berisi kuah kaldu.

Apabila kamu memasak, perbanyaklah kuahnya. Kemudian perhatian penghuni rumah tetanggamu, dan berikan sebagian masakan itu kepada mereka dengan baik” (HR. Muslim) 

Ketika hendak bertanya letak suatu tempat di kompleks rumah, kepada siapakah kita bertanya ? Kepada tetangga depan rumah atau lebih senang bertanya lewat status jejaring sosial ? “Hmmm, siapa tau ada yang komen..” 
Padahal bisa jadi informasi yang diberikan tetangga depan rumah lebih akurat mungkin bisa jadi juga dengan bertanya hal yang sederhana mampu menyambung silaturrahim antar tetangga..

Ketika terdengar kabar sakitnya fulanah tetangga maya, maka kita sibuk menanyakan alamat rumahnya, walaupun tempatnya sangat jauh kita berharap barangkali bisa berkunjung untuk menjenguknya. Namun, jika yang sakit tetangga belakang rumah, kita santai-santai saja “ah, wong gak kenal kok sama fulanah..lagian udah banyak yang jenguk kok“. Allaahul Musta’an.

Ketika diajak berkumpul (baca : kopi darat) oleh tetangga2 maya-nya, maka kita sebaik mungkin meluangkan waktu bertemu mereka, namun jika yang mengajak berkumpul adalah Bu RT setempat dengan agenda rapat warga bersama RT, maka alasannya bejibun. Bahkan tak mau berkumpul dengan alasan “malas kumpul dengan orang awwam..” Allaahul Musta’an.

Dengarkanlah,

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Kata tetangga mencakup muslim maupun kafir, ahli ibadah maupun ahli maksiat, teman dekat maupun musuh, pendatang maupun penduduk asli, yang suka membantu maupun yang suka merepotkan, yang dekat maupun yang jauh, yang rumahnya berhadapan maupun yang yang bersingkuran… Dan masing-masing disikapi dengan baik sesuai keadaannya” (Fat-hul Baari, 10/441).

Siapakah yang dimaksud dengan tetangga? 

Tetangga adalah orang yang terdekat dalam kehidupan, tidaklah seseorang keluar dari rumah melainkan dia melewati rumah tetangganya. Di saat dirinya membutuhkan bantuan baik moril maupun materiil, tetangga lah orang pertama yang dia ketuk pintunya. Bahkan di saat dia meninggal bukan kerabat jauh yang diharapkan mengurus dirinya, tetapi tetangga lah yang dengan tulus bersegera menyelenggarakan pengurusan jenazahnya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar juga membawakan keterangan dari ’Aisyah, batasan tetangga adalah 40 rumah dari segala penjuru, demikian pula pendapat dari Al-Auza’i. Ibnu Hajar juga membawakan riwayat lain, ”Diriwayatkan oleh Ibnu Wahb, dari Yunus, dari Ibnu Syihab, “Tetangga adalah 40 rumah, ke kanan, kiri, belakang dan depan“. (Fat-hul Baari, 10/447).

Saudaraku, siapakah kita dimata tetangga dunia nyata kita, itu penting. 

Allaahu A’lam.

——— 

Terakhir, sebagai test intermezo saja : Sebutkan 10 nama tetangga kita yang rumahnya didepan / belakang / kanan / kiri dari rumah kita. Hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: