Hati, Berhati-hatilah (bagian 2)

Bismillaah,

Seorang Ulama pernah ditanya :

Kenapa tulisan-tulisan para salafus-sholeh, ucapan serta nasehat mereka lebih banyak manfaatnya dibanding ucapan, tulisan, dan nasehat kita ?” 

Beliau menjawab, “Karena mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, untuk manfaat bagi kaum muslimin, serta untuk menggapai ridho Ar-Rahman. Sementara kita, berbicara untuk kemuliaan diri, mengharapkan penerimaan dari manusia,popularitas, riya’, serta mencari pujian. “

(Sumber: Irsyadul ‘Ibaad Listi’daadi li yaumil ma’ad)

—————————————–

Ketika diri menisbatkan pada jalannya salafus-sholeh, namun sayang sungguh disayang justru amalan ini jauuuh daripadanya.

Sebagai contoh, banyak diantara kita menghapal bahkan memahami bagaimana cara sholat / berpakaian / berhaji / puasa dan lainnya. Bagaimana gerakan-gerakan sholat diperhatikan betul agar sama seperti yang dicontohkan Rasulullaah shallallaahu’alayhiwasallam berikut dengan bacaan didalamnya. Bagaimana ‘gaya’ berpakaian dicocokan dengan Ummul Mukminin, dan semisalnya.

Tapi, ada satu pertanyaan yang kemudian menjadi perhatian :

Apakah kita juga memberi perhatian khusus dalam kekhusyu’an setiap amalan ?” Jangan-jangan kita hanya khusyu’ pada amalan-amalan yang dzohir (yang nampak), padahal Allaah hanya mengumpulkan orang-orang yang beriman di Surga. Dan “Iman” terkait jelas dengan amalan dzohir dan hati. Tidak bisa dipisahkan.

Berikut nasehat seorang Ustadz :

“Sungguh merupakan perkara yang menyedihkan, banyak diantara kita yang memiliki ilmu yang tinggi, melakukan amalan-amalan dzohir yang luar biasa, akan tetapi dalam masalah amalan hati maka sangatlah lemah. Ada diantara mereka yang sangat mudah marah… sangat tidak sabar…kurang tawakkal…, yang hal ini menunjukkan lemahnya iman terhadap taqdiir. Tatkala datang perkara yang genting maka terlihat dia seperti anak kecil yang tidak sabar dan mudah marah… menunjukan lemahnya amalan hatinya. Meskipun ilmunya tinggi…, meskipun amalannya banyak.. akan tetapi ia adalah orang awam dalam masalah hati. Bahkan bisa jadi banyak orang awam yang jauh lebih baik darinya dalam amalan hati.”

Allaahul Musta’an.

Maka hati, berhati-hatilah..

“Sesungguhnya amalan-amalan lahiriah (dzohir) nilainya menjadi besar atau menjadi kecil sesuai dengan apa yang ada di hati, dan apa yang ada di hati bertingkat-tingkat. Tidak ada yang tahu tingkatan-tingkatan keimanan dalam hati-hati manusia kecuali Allah” (Minhaajus Sunnah 6/137)

Oleh karenanya Allaah pun berfirman :

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya (QS Al-Hajj : 37)

 

Allaahu ‘Alam.

~Sebuah catatan untuk penulis pribadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: