Kiat-Kiat Menjadi Istri yang Baik untuk Keluarga

Bismillaah,

Kiat-Kiat Menjadi Istri yang Baik untuk Keluarga” 

Judul diatas tidak akan anda dapatkan pada pendidikan sekolah manapun, di jurusan perkuliahan manapun, bahkan di tingkat kampus sekelas Oxford sekalipun.

Lalu, dimana kita bisa dapatkan pelajaran paling penting tersebut ? Bahkan materi ini sering dilupakan, diacuhkan. Ujung-ujungnya jika menyepelekannya, maka kita akan sulit berinteraksi dengan (calon) suami, (calon) mertua, (calon) anak2 dll. Atau bahkan akan banyak mengundang ‘gonjang-ganjing’ pertingkaian Rumah Tangga bak sinetron yang di tunggu2 ribuan Ibu Rumah Tangga. Wow.

Saya tertarik dengan tulisan Mazin bin Abdul Karim Al Farih dalam artikel “Sepuluh Wasiat untuk Calon Pengantin

Di salah satu wasiatnya tertulis :

Wasiat kedua:  “Berupaya mengenal dan memahami suami

Hendaknya seorang istri berupaya memahami suaminya. Ia tahu apa yang disukai suami maka ia berusaha memenuhinya. Dan ia tahu apa yang dibenci suami maka ia berupaya untuk menjauhinya, dengan catatan selama tidak dalam perkara maksiat kepada Allaah, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al Khaliq (Allaah Ta`ala). 

Berikut ini dengarkanlah kisah seorang istri yang bijaksana yang berupaya memahami suaminya.

Berkata sang suami kepada temannya : “Selama dua puluh tahun hidup bersama belum pernah aku melihat dari istriku perkara yang dapat membuatku marah.”

Maka berkata temannya dengan heran : “Bagaimana hal itu bisa terjadi ?”

Berkata sang suami : “Pada malam pertama aku masuk menemui istriku, aku mendekat padanya dan aku hendak menggapainya dengan tanganku, maka ia berkata : ‘Jangan tergesa-gesa wahai Abu Umayyah.’  Lalu ia berkata :  ‘Segala puji bagi Allaah dan shalawat atas Rasulullaah… Aku adalah wanita asing, aku tidak tahu tentang akhlakmu, maka terangkanlah kepadaku apa yang engkau sukai niscaya aku akan melakukannya dan apa yang engkau tidak sukai niscaya aku akan meninggalkannya.’

Kemudian ia berkata : ‘Aku ucapkan perkataaan ini dan aku mohon ampun kepada Allaah untuk diriku dan dirimu.’”

Berkata sang suami kepada temannya : “Demi Allaah, ia mengharuskan aku untuk berkhutbah pada kesempatan tersebut. Maka aku katakan : ‘Segala puji bagi Allaah dan aku mengucapkan shalawat dan salam atas Nabi dan keluarganya. Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang bila engkau tetap berpegang padanya, maka itu adalah kebahagiaan untukmu dan jika engkau tinggalkan (tidak melaksanakannya) jadilah itu sebagai bukti untuk menyalahkanmu. Aku menyukai ini dan itu, dan aku benci ini dan itu. Apa yang engkau lihat dari kebaikan maka sebarkanlah dan apa yang engkau lihat dari kejelekkan tutupilah.’

Istri berkata : ‘Apakah engkau suka bila aku mengunjungi keluargaku?’ Aku menjawab: ‘Aku tidak suka kerabat istriku bosan terhadapku’ (yakni si suami tidak menginginkan istrinya sering berkunjung).

Ia berkata lagi : ‘Siapa di antara tetanggamu yang engkau suka untuk masuk ke rumahmu maka aku akan izinkan ia masuk? Dan siapa yang engkau tidak sukai maka akupun tidak menyukainya?’

Aku katakan : ‘Bani Fulan adalah kaum yang shaleh dan Bani Fulan adalah kaum yang jelek.’”

Berkata sang suami kepada temannya : “Lalu aku melewati malam yang paling indah bersamanya. Dan aku hidup bersamanya selama setahun dalam keadaan tidak pernah aku melihat kecuali apa yang aku sukai. Suatu ketika di permulaan tahun, tatkala aku pulang dari tempat kerjaku, aku dapatkan ibu mertuaku ada di rumahku. Lalu ibu mertuaku berkata kepadaku: ‘Bagaimana pendapatmu tentang istrimu?’”

Aku jawab: “Ia sebaik-baik istri.”

Ibu mertuaku berkata : “Wahai Abu Umayyah.. Demi Allaah, tidak ada yang dimiliki para suami di rumah-rumah mereka yang lebih jelek daripada istri penentang (lancang). Maka didiklah dan perbaikilah akhlaknya sesuai dengan kehendakmu.”

Berkata sang suami : “Maka ia tinggal bersamaku selama dua puluh tahun, belum pernah aku mengingkari perbuatannya sedikitpun kecuali sekali, itupun karena aku berbuat dhalim padanya.”

Alangkah bahagia kehidupannya…! Demi Allaah, aku tidak tahu apakah kekagumanku tertuju pada istri tersebut dan kecerdasan yang dimilikinya ? Ataukah tertuju pada sang ibu dan pendidikan yang diberikan untuk putrinya ? Ataukah terhadap sang suami dan hikmah yang dimilikinya ? Itu adalah keutamaan Allaah yang diberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki.

 

————————

Mencari-cari apa yang disukai (calon) suami dan apa yang dibencinya -selama dalam ketaatan kepada Allaah-. Adalah hal menarik bagi saya, dan tentunya bagi setiap isteri. Menurut saya, inilah pokok pertama dalam kehidupan Rumah Tangga. Inilah bentuk pengabdian paling dalam.

Jika dulu kita senang mencari-cari apa yang disukai Bapak-Ibu kita dan apa yang dibencinya di rumahnya, maka kita akan melakukan hal yang sama ketika telah berpindah ‘jabatan’ melayani suami di rumahnya. 

Untuk istri, untuk ibu rumah tangga dan ibunya anak-anak yang ingin menjadikan rumahnya sebagai pondok yang tenang dan tempat nan aman yang dipenuhi cinta dan kasih sayang, ketenangan dan kelembutan. Semoga Allaah memudahkan antunna untuk mengarungi samudera rumah tangga.

BaarakAllaahu fiykunna ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: