LARANGAN BERDUSTA DALAM BERINTERAKSI DENGAN MANUSIA, MESKIPUN ANAK KECIL

Bismillaah,

Sebuah nasihat yang sangat bagus untuk seorang Ibu dari anak-anak, untuk seorang tante dari ponakan-ponakan, atau untuk seorang guru dari murid-murid, dan semacamnya.

Jika kita tak bisa meng-handle anak yang rewel maka tak terkadang kita menjanjikan sesuatu kepadanya, semisal :

“Jangan nangis, nanti Ibu belikan mainan..” atau “Yuk tidur sayang, nanti bangun tidur tante ajak jalan-jalan..” atau “Anak-anak, jangan ramai di kelas, nanti bu Guru hadiahkan kalian buku..”

عن عبد اللّه بن عامر أنه قال : دعتني أمِّي يوماً ورسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم قاعدٌ في بيتنا فقالت: ها تعال أعطيك، فقال لها رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم: “وما أردت أن تعطيه؟” قالت: أعطيه تمراً، فقال لها رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم: “أما إنك لو لم تعطيه شيئاً كتبت عليك كذبةٌ”.

Artinya :
Dari ‘Abdullah bin ‘Aamir – رضي الله عنه – bahwasannya ia berkata : 

“Ibuku pernah memanggilku pada suatu hari, sementara Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk di rumah kami.  Lalu Ibuku berkata : Kemarilah, aku akan memberimu sesuatu. 

Rasulullah – صلى الله عليه و سلم – bertanya kepadanya : Apa yang hendak Engkau berikan ? Ia berkata : Aku akan memberinya kurma.

Maka Rasulullah – صلى الله عليه و سلم – bersabda : Jika kamu tidak memberikan sesuatu kepadanya, niscaya akan dicatat bagimu sebagai suatu kedustaan. “

[ Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4991; hasan ]

Diantara faedah yang dapat kita ambil dari hadist tersebut adalah :

1. Anak akan meniru kita dalam bertingkah. Ketika mereka tahu kita mendustai mereka, maka mereka pun kelak akan (lebih) mudah mendustai kita, teman-teman mereka, dan anak-anak mereka nantinya.

2. Islam adalah agama yang jauh dari kedustaan dan melarang keras pengikutnya berdusta.
Untuk itu perhatikanlah dan jangan bermudah – mudah sebab Rasulullah – صلى الله عليه و سلم – bersabda :

إياكم و الكذب فإن الكذب يهدي إلى الفجور و إن الفجور يهدي إلى النار ….

Artinya :
“Hati – hatilah kalian dari berdusta, karena kedustaan itu akan membawa kita kepada keburukan dan keburukan akan membawa kita kepada neraka…”
( HR. Bukhari dan Muslim )

Allaahul musta’aan.

Lalu bagaimana jika kita menyematkan kata “in syaa’Allaah” dalam kalimat sehingga sekalipun jika berjanji dan lupa atau tidak terpenuhi maka diperbolehkan ?

Ketahuilah, jika niat mengucapkan “in syaa’Allaah” adalah untuk melalaikan janji, maka sama saja kita sedang mengajarkan anak-anak untuk menyepelekan kata “in syaa’Allaah” ketika berjanji.

Ingat, Al – Ummu madrasatul ‘ulaa : Ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anak-anaknya.

~dishare oleh ukhtiy Layli via group al akhowat al malanjiyyah, dengan editan dan tambahan, diambil dari postingan fb ustadz abul jauza doni arif wibowo – حفظه الله

Semoga bermanfa’at.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: