Seutas Jilbaab(ku)

Bismillaah,

Wahai kalian wanita yang dimuliakan dalam Islam, yang begitu bahagianya mendapati orangtua yang qona’ah, bertauhid dan mengerti betul batasan-batasan perkara dunia.

Namun, ketika ku lihat kalian tak ubah seperti kertas putih yang tak terisi apapun, polos sama sekali, kaku tak terjamah. Padahal, tinta sudah menjadi emas dan pena siap menyambut.

Tengoklah pada diri wanita yang dimuliakan dalam Islam, yang sama pula bahagianya akan tetapi –qoddarallaah- Allaah tak menghendaki ia tinggal didalam didikan orangtua yang qona’ah, bertauhid dan..  apalagi sampai mengerti betul batasan-batasan perkara dunia.

Laa ! Tapi jika engkau tau, ia lah selembar kertas lembut dengan tinta emas walaupun tinta emas yang tertulis sebenarnya adalah hitam, lagi menghancurkan.

Seutas jilbaab ini adalah perjuangan, duhai kawan.

Seutas jilbaab lebar ini adalah perjuangan, duhai kawan..

Dan seutas kain penutup wajah ini adalah darahnya.

Mana semangatmu wahai wanita yang beruntung ? Jika berjilbaab saja orangtuamu harus bersusah payah mencari dalil untuk hatimu yang kaku ? Sungguh tinta emasmu sudah kau abaikan, pena-mu telah kau caci dan kau buang dengan ego dunia. Tidakkah engkau seorang pedagang yang merugi ?!*

Janganlah kalian menjual/menukar ayat-ayat Kami dengan harga yang murah (dunia)….” (al-Baqarah/ 2:41)

Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya, dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (Qs. Asy-Syûrâ/42:20)

Betapa Rabb pencipta alam semesta amat penyayang. Sebelum nyawa sampai dikerongkongan, setiap kertas masih memiliki kesempatan yang sama untuk mencari tinta emasnya, hingga ketika pena sudah tak dapat menulis, kertas itupun sudah siap bermanfaat untuk dirinya sendiri dan orang disekitarnya.

 Allaahul musta’an, ana uhibbukunna fillaah yaa ukhtiy fillaah..

Baarakallaahu fiykum.

*Note : Pedagang yang merugi diumpakan sebagai seorang umat yang merugi karena meninggalkan perkara akhirat demi perkara dunianya.

 -Kediri, 25 Rabi’ul Akhir 1434 H

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: