Lisan, Please Jangan Menyakitkan…

Bismillaah, Assalamu’alaykum…

Betapa banyak kita terluka bukan karena pedang atau pisau yang tajam. namun kita sering terluka oleh tajamnya lisan. Betapa banyak permusuhan yang menggunung karena hebatnya lisan, lisan yang tak dipergunakan untuk kelembutan. Namun sebaliknya, ia digunakan untuk saling menyakitkan.

Bukanlah seperti itu lisan seorang muslim[ah]. Ingatlah saat Allaah memerintah Nabi Musa ‘alayhi salam untuk pergi menghadap fir’aun, makhluk paling kasar dan kejam saat itu.  Allaah Ta’ala berfirman :

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“(Wahai Musa dan Harun), pergilah kalian berdua kepada Fir’aun, karena sesungguhnya dia telah melampaui batas. Dan katakanlah kepadanya kata-kata yang halus, dengan harapan ia akan sadar dan takut”. (Surat Thoha, ayat 43-44).

Jika berdakwah kepada Fir’aun saja, diperintahkan dengan lemah lembut, apalagi kepada orang yg lebih baik darinya… Jika Nabi Musa dan Nabi Harun saja, diperintahkan untuk berlemah lembut, apalagi kita yang jauh dari derajat kenabian ?

Faghfirlanaa yaa Rabb..

Saudaraku, adakah manfa’at dibalik lisan yang tajam selain senantiasa menghujam hati orang-orang terdekat? Saudaraku, adakah manfa’at dibalik wajah yang suram selain membuat orang disekitar takut dan enggan menyapa?

Apakah sulit bagi kita untuk sekedar berlemah lembut karena bukan saja disana ada HAK manusia lain, namun juga ada HAK Allaah, Pencipta langit dan bumi dan diantara langit & bumi yang menyeru kita kepada kebaikan.

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik, karena sesungguhnya Tuhan-mu lah yang lebih tahu siapa yg (pantas) tersesat dari jalan-Nya, dan Dia juga yang lebih tahu siapa yg (pantas) menjadi orang-orang yang mendapatkan petunjuk”. (Surat Annahl, ayat: 125).

Engkau adalah seorang muslim, dan tunjukkan kemuslimanmu lewat kelemah-lembutan. Bukankah seseorang selalu menilai pengemban ilmu dari tutur kata dan sikapnya?

Saudaraku, ma’afkan mereka yang lisannya telah terasah. Bukan ruang lingkup kita untuk membalasnya. Katakan pada mereka, “Aku tak mempunyai kalimat yang lebih tajam dari kalimatmu. Aku bukan dari golongan orang yang menyakiti.”

Terakhir, belajar dari lisan siapa saja,  katakan pada siapa saja,

“Jika kalian baik padaku, maka ma’afkanlah, aku tak bisa lebih baik dari apa yang ada pada dirimu. Jika kalian jahat padaku, maka ma’afkanlah, aku tak bisa lebih jahat dari kejahatanmu padaku. Cukuplah Allaah yang membalas setiap perbuatan.”

2 comments

  1. like this nia…. very like🙂

    1. Alhamdulillaah ‘alaa kulli haal🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: