Kisah Tukang Kayu

Bismillaah, assalamu’alaykum wa rahmatullaah wa barakaatuh. Kaifa haluk saudaraku sekalian? Semoga hidayah sudah (dan masih) bersemanyam di dadamu.. ^_^

Na’am, in syaa’Allaah kali ini kita akan mengetahui bersama kisah tentang tukang kayu, yang semoga bisa menjadi ibrah untuk kita, untuk saya pada khususnya. Cerita ini disampaikan oleh anne anhira, sebuah newsletter-berlangganan yang mampir ke email saya beberapa hari yang lalu . Berikut isinya:

Dear Nia,

Seorang tukang bangunan yang sudah tua berniat untuk pensiun dari profesi yang sudah ia geluti selama puluhan tahun.

Ia ingin menikmati masa tua bersama istri dan anak cucunya. Ia tahu ia akan kehilangan penghasilan rutinnya namun bagaimanapun tubuh tuanya butuh istirahat. Ia pun menyampaikan rencana tersebut kepada mandornya.

Sang Mandor merasa sedih, sebab ia akan kehilangan salah satu tukang kayu terbaiknya, ahli bangunan yang handal yang ia miliki dalam timnya. Namun ia juga tidak bisa memaksa.

Sebagai permintaan terakhir sebelum tukang kayu tua ini berhenti, sang mandor memintanya untuk sekali lagi membangun sebuah rumah untuk terakhir kalinya.

Dengan berat hati si tukang kayu menyanggupi namun ia berkata karena ia sudah berniat untuk pensiun maka ia akan mengerjakannya tidak dengan segenap hati.

Sang mandor hanya tersenyum dan berkata, “Kerjakanlah dengan yang
terbaik yang kamu bisa. Kamu bebas membangun dengan semua bahan terbaik yang ada.

Tukang kayu lalu memulai pekerjaan terakhirnya. Ia begitu malas-malasan.
Ia asal-asalan membuat rangka bangunan, ia malas mencari, maka ia gunakan bahan-bahan berkualitas rendah. Sayang sekali, ia memilih cara yang buruk untuk mengakhiri karirnya.

Saat rumah itu selesai. Sang mandor datang untuk memeriksa. Saat sang  mandor memegang daun pintu depan, ia berbalik dan berkata, “Ini adalah rumahmu, hadiah dariku untukmu !

Betapa terkejutnya si tukang kayu. Ia sangat menyesal. Kalau saja sejak awal ia tahu bahwa ia sedang membangun rumahnya, ia akan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Sekarang akibatnya, ia harus tinggal di rumah yang ia bangun dengan asal-asalan.

Inilah refleksi hidup kita!

Pikirkanlah kisah si tukang kayu ini. Anggaplah rumah itu sama dengan kehidupan Anda. Setiap kali Anda memalu paku, memasang rangka, memasang keramik, lakukanlah dengan segenap hati dan bijaksana.

Sebab kehidupanmu saat ini adalah akibat dari pilihanmu di masa lalu. Masa depanmu adalalah hasil dari keputusanmu saat ini.

Maa syaa’Allaah lihatlah saudaraku, masa lalu memang hanyalah sebuah masa yang sudah berlalu, tapi sungguh masa lalu memang sebagai penentu di masa depan. Sering kita menyepelekan hal yang sebenarnya sangatlah penting untuk masa depan kita.

Bukan, masa depan bukanlah sebatas dunia saja. Masa depan adalah masa mu setelah mati. Masa alam kubur hingga masa dimana kita dihidupkan kembali. Masa dimana kita bersama-sama melalui jembatan siroth.

Jika untuk dunia saja kita tidak dianjurkan untuk berleha-leha, apalagi untuk akherat? Innalillaahi wa innailayhi roji’un, “sesungguhnya semua yang berasal dari Allaah akan kembali kepada Allaah”.

Sekilas gambaran Jembatan Siroth

See? Mari ‘bergerak’ untuk sebuah hidup yang kita sendiri tidak tau kapan akan berakhir. Semoga masa depan kita termasuk sebuah masa yang penuh dengan cinta Allaah Ta’ala. Ana uhibbukum fillaah, Baarakallaahu fiyk.

*Picture has been taken from Facebook’s timeline.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: